This is a glimpse into my life and my journey as I grow as a person.
RSS

Selasa, 16 April 2013

Resume Artikel


Judul Artikel: Monitoring Corruption: Evidence from a Field Experiment in Indonesia
Oleh Benjamin A. Olken
Harvard University and National Bureau of Economic Research

Artikel ini membahas hasil percobaan lapangan di Indonesia, yang dirancang untuk menyelidiki pendekatan alternatif untuk memerangi korupsi. Terdapat dua strategi yaitu: top-down pemantauan oleh auditor pemerintah dan bottom-up pemantauan melalui partisipasi akar rumput dalam proses pemantauan desa.
Proyek pembuatan infrastruktur jalan di desa yang memperoleh dana dari Proyek Pembangunan Kecamatan menjadi objek penelitan artikel ini. Terdapat 608 desa yang dijadikan sample dalam penelitian ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan top down melalui pemantauan auditor pemerintah lebih efektif apabila digunakan untuk memantau pengadaan barang publik seperti pembangunan infrastruktur.
Sedangkan pendekatan bottom up melalui grassroots monitoring akan lebih efektif jika digunakan untuk program pengadaan barang pribadi, seperti makanan bersubsidi, pendidikan, atau perawatan medis di mana individu memilki kepentingan pribadi dalam memastikan bahwa barang benar - benar diserahkan dan meminimalkan pencurian.

Secara keseluruhan, hasil menunjukkan bahwa strategi top down dapat memainkan peran penting dalam mengurangi korupsi, bahkan dalam lingkungan yang sangat korup.




Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Selasa, 02 April 2013

COSO dan Pengendalian Intern


Desi Nur Fauziah - C1C010039


Apa itu COSO?
Menurut salah satu  sumber yang saya baca Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission, atau disingkat COSO, adalah suatu inisiatif dari sektor swasta yang dibentuk pada tahun 1985. Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan penggelapan laporan keuangan dan membuat rekomendasi untuk mengurangi kejadian tersebut. COSO telah menyusun suatu definisi umum untuk pengendalian, standar, dan kriteria internal yang dapat digunakan perusahaan untuk menilai sistem pengendalian mereka.
COSO disponsori dan didanai oleh 5 asosiasi dan lembaga akuntansi profesional; American Institute of Certified Public Accountants (AICPA), American Accounting Association (AAA), Financial Executives Institute (FEI), The Institute of Internal Auditors (IIA) dan The Institute of Management Accountants (IMA).
Walaupun disponsori sama 5 professional association, tapi pada dasarnya komisi ini bersifat independen dan orang2 yang duduk di dalamnya berasal dari beragam kalangan: industri, akuntan publik, Bursa Efek, dan investor. Nama ‘Treadway’ sendiri berasal dari nama ketua pertamanya yaitu James C. Treadway, Jr.
COSO mendefinisikan pengendalian internal sebagai suatu proses yang melibatkan dewan komisaris, manajemen, dan personil lain, yang dirancang untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga tujuan berikut ini:
  Ø  Efektivitas dan efisiensi operasi
  Ø  Keandalan pelaporan keuangan
  Ø  Kepetuhan kerhadap hukum dan peraturan yang berlaku)

COSO memandang pengendalian internal merupakan rangkaian tindakan yang mencakup keseluruhan proses dalam organisasi. Pengendalian internal berada dalam proses manajemen dasar, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan.
Menurut COSO komponen Pengendalian Intern ada 5 yaitu:
1.     Lingkungan pengendalian (control environment). Faktor-faktor lingkungan pengendalian mencakup integritas, nilai etis, dan kompetensi dari orang dan entitas, filosofi manajemen dan gaya operasi, cara manajemen memberikan otoritas dan tanggung jawab serta mengorganisasikan dan mengembangkan orangnya, perhatian dan pengarahan yang diberikan oleh board.
2.    Penaksiran risiko (risk assessment). Mekanisme yang ditetapkan untuk mengindentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko-risiko yang berkaitan dengan berbagai aktivitas di mana organisasi beroperasi.
3.    Aktivitas pengendalian (control activities). Pelaksanaan dari kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur yang ditetapkan oleh manajemen untuk membantu memastikan bahwa tujuan dapat tercapai.
4.    Informasi dan komunikasi (informasi and communication). Sistem yang memungkinkan orang atau entitas, memperoleh dan menukar informasi yang diperlukan untuk melaksanakan, mengelola, dan mengendalikan operasinya.
5.    Pemantauan (monitoring). Sistem pengendalian internal perlu dipantau, proses ini bertujuan untuk menilai mutu kinerja sistem sepanjang waktu. Ini dijalankan melalui aktivitas pemantauan yang terus-menerus, evaluasi yang terpisah atau kombinasi dari keduanya.

Di tahun 2004, COSO mengeluarkan report ‘Enterprise Risk Management – Integrated Framework’, sebagai pengembangan COSO framework di atas. Dijelaskan ada 8 komponen dalam Enterprise Risk Management, yaitu:
  Ø  Internal Environment
  Ø  Objective Setting
  Ø  Event Identification
  Ø  Risk Assessment
  Ø  Risk Response
  Ø  Control Activities
  Ø  Information and Communication
  Ø  Monitoring

1.      Lingkungan Internal (Internal Environment) – Lingkungan internal sangat menentukan warna dari sebuah organisasi dan memberi dasar bagi cara pandang terhadap risiko dari setiap orang dalam organisasi tersebut. Di dalam lingkungan internal ini termasuk, filosofi manajemen risiko dan risk appetite, nilai-nilai etika dan integritas, dan lingkungan di mana kesemuanya tersebut berjalan.
2.      Penentuan Tujuan (Objective Setting) – Tujuan perusahaan harus ada terlebih dahulu sebelum manajemen dapat menidentifikasi kejadian-kejadian yang berpotensi mempengaruhi pencapaian tujuan tersebut.  ERM memastikan bahwa manajemen memiliki sebuah proses untuk menetapkan tujuan ddan bahwa tujuan yang dipilih atau ditetapkan tersebut terkait dan mendukung misi perusahaan dan konsisten dengan risk appetite-nya.
3.      Identifikasi Kejadian (Event Identification) – Kejadian internal dan eksternal yang mempengaruhi pencapaian tujuan perusahaan harus diidentifikasi, dan dibedakan antara risiko dan peluang. Peluang dikembalikan (channeled back) kepada proses penetapan strategi atau tujuan manajemen.
4.      Penilaian Risiko (Risk Assessment) – Risiko dianalisis dengan memperhitungkan kemungkinan terjadi (likelihood) dan dampaknya (impact), sebagai dasar bagi penentuan bagaimana seharusnya risiko tersebut dikelola.
5.      Respons Risiko (Risk Response) – Manajemen memilih respons risiko –menghindar (avoiding), menerima (accepting), mengurangi (reducing), atau mengalihkan (sharing risk)  – dan mengembangkan satu set kegiatan agar risiko tersebut sesuai dengan toleransi (risk tolerance) dan risk appetite.
6.      Kegiatan Pengendalian (Control Activities) – Kebijakan dan prosedur yang ditetapkan dan diimplementasikan untuk membantu memastikan respons risiko berjalan dengan efektif.
7.      Informasi dan komunikasi (Information and Communication) – Informasi yang relevan diidentifikasi, ditangkap, dan dikomunikasikan dalam bentuk dan waktu yang memungkinkan setiap orang menjalankan tanggung jawabnya.
8.      Pengawasan (Monitoring) – Keseluruhan proses ERM dimonitor dan modifikasi dilakukan apabila perlu.  Pengawasan dilakukan secara melekat pada kegiatan manajemen yang berjalan terus-menerus, melalui eveluasi secara khusus,  atau dengan keduanya.


Sumber:

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Selasa, 26 Maret 2013

PERENCANAAN AUDIT

Berikut ini hasil kerja kelompok dengan anggota kelompok yaitu:
Anastasia Marinda (C1C010021)
Tival Nugroho Putri (C1C010032)
Giacinta Karlyn Nindrasmara (C1C010035)
Desi Nur Fauziah (C1C010039)
Tryssya Feby Andany (C1C010044)


Langkah-langkah penting dalam merencanakan audit adalah : 

  1. Memperoleh Pemahaman Tentang Bisnis dan Industri Klien 
Agar dapat membuat perencanaan audit secara memadai, auditor harus memiliki pengetahuan tentang bisnis kliennya agar memahami kejadian, transakasi, dan praktik yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap laporan keuangan.
Penting bagi auditor untuk memahami aspek-aspek kunci dari siklus bisnis klien. Siklus ini dimulai ketika satu organisasi membawa tujuan dan sumberdayanya secara bersamaan. Siklus bisnis terus berjalan seperti suatu organisasi memahami kekuatan pasar dam peraturan yang mendefinisikan lingkungan ompetitif, dan membuat keputusan penting yang berkenaan dengan penyebaran sumberdaya-sumberdaya ke dalam proses inti untuk memperoleh konsumen serta mendistribusikan produk dan jasanya.
Proses-proses inti ini harus menghasilkan profitabilitas, arus kas operasi, dan bergantung pada tujuan organisasi, pertumbuhan dan peningkatan nilai. Jasa bernilai tambah penting yang ditawarkan akuntan publik berkaitan dengan penilaian bisnis dan menjelaskan bagaimana arus kas dan pengembangan sumberdaya yang berkaitan dengan nilai organisasi.
Entitas kemudian harus mengelola arus kasnya untuk mengembangkan sumberdaya-sumberdaya serta mempertahankan likuiditas dan solvabilitas. Pada tahap ini suatu entitas harus menentukan sumberdaya tambahan yang diperlukan, bagaimana sumber daya tersebut akan didanai, apakah entitas memerlukan tambahan modal dari luar, dan apakah entitas memiliki dana yang cukup untuk membayar kembali pinjaman. Siklus bisnis berlanjut sejalan dengan organisasi mempertimbangkan kembali tujuannya dan penyebaran sumberdaya-sumberdaya pentingnya.
Terdapat beberapa aspek kritis dari siklus bisnis yang penting bagi auditor untuk dipahami. Hal tersebut termasuk :
  • Manajemen, tujuan manajemen, dan sumberdaya-sumberdaya organisasi. 
  • Produk dan jasa, pasar, pelanggan, dan persaingan entitas. 
  • Proses inti dan siklus operasional entitas. 
  • Keputusan investasi dan pembiayaan entitas. 
Prosedur untuk memahami bisnis dan industri 
  • me-review data industri 
  • me-review informasi bisnis kecil 
  • mengadakan tinjauan operasi klien 
  • mengajukan pertanyaan kepada komite audit 
  • mengajukan pertanyaan kepada manajemen 
  • me-review kertas kerja tahun lalu 
  • menentukan keberadaan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa 


2. Melaksanakan prosedur analitik. 
Prosedur analitis (pengujian analitis) di definisikan dalam PSA 22 (SA329) sebagaievaluasi atas informasi keuangan yang di lakukan dengan mempelajari hubungan logis antara data keuangan dan non keuangan.
Prosedur analitis digunakan dalam audit untuk tujuan berikut :
  • Dalam tahap perencanaan audit, untuk membantu auditor dalam merencanakan sifat, waktu dan luasnya prosedur audit lainnya 
  • Dalam tahap pengujian, sebagai pengujian substantif untuk memperoleh bukti mengenai asersi tertentu yang berhubungan dengan saldo akun atau transaksi. 
  • Pada penyelesaian audit, dalam melakukan review akhir terhadap kelayakan keseluruhan laporan keuangan yang diaudit. 

Langkah-langkah yang terlibat dalam melaksanakan prosedur analitis yaitu
  • Mengidentifikasi perhitungan atau perbandingan yang akan dilakukan 
Jenis perhitungan dan perbandingan data yang digunakan adalah
a. Perbandingan data absolut
Prosedur ini membandingkan jumlah saat ini,s eperti saldo akun, dengan suatu jumlah yang diharapkan atau diprediksi.
b. Laporan keuangan ukuran umum
Prosedur ini membandingkan presentasi dari total yang berhubungan yang direpresentasikan oleh komponen laporan keuangan dengan jumlah yang diharapkan. 
c. Analisis rasio
Sejumlah rasio yang seringkali digunakan oleh manajemen atau analisis keuangan dapat dihitung dan dibandingkan dengan nilai yang diharapkan untuk rasio tersebut. Jumlah dari hasil perhitungan dapat dianalisis secara individual atau dalam kelompok yang berhubungan seperti rasio solvabilitas, efisiensi, dan profitabilitas.
d. Analisis tren
Analisis tren melibatkan perbandingan beberapa data bagi lebih dari dua periode akuntansi untuk mengidentifikasi perubahan penting yang mungkin tidak nyata dari perbandingan yang terbatas pada periode saat ini dan periode masa lalu
e. Hubungan informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan
Data nonkeuangan seperti jumlah karyawan, luas ruang penjualan, dan volume barang yang diproduksi mungkin berguna dalam memperkirakan saldo akun yang berhubungan seperti beban gaji, penjualan, dan harga pokok produksi.

  • Mengembangkan ekspektasi 
Dasar pemikiran yang mendasari prosedur analitis dalam audit adalah hubungan antardata dapat diharapkan untuk terus berlanjut dalam ketidakberadaan kondisi yang diketahui atau sebaliknya. Selain itu, penting bagi auditor untuk mengembangkan secara independen ekspektasi sebelum melaksanakan perhitungan mengenai data klien sehingga perbandingan akhir tidak bias, dasar pemikiran ini digunakan dalam mengembangkan ekspektasi dari berbagai sumber.
a. Informasi keuangan klien untuk periode masa lalu yang daoat dibandingan memberikan pertimbangan bagi perubahan yang diketahui. Secara sederhana diasumsikan bahwa suatu saldo akun periode berjalan, persentase ukuran umum, rasio atau hubungan antara data keuangan dan data nonkeuangan harus memperkirakan jumlah periode masa lalu.
b. Hasil yang diantisipasi berdasarkan anggaran formal dan peramalan. Pendekatan ini termasuk anggaran yang disiapkan klien, dan peramalan yang disiapkan oleh auditor.
c. Hubungan antara elemen-elemen informasi keuangan dalam suatu periode. Hal ini termasuk mempertimbangkan bagaimana perubahan dalam satu aun diharapkan akan mempengaruhi akun lainnya.
d. Data industri. Persentase ukuran umum, rasio, dan data tren perusahaan dalam suatu industri tersedia untuk tujuan perbandingan dari sumber-sumber.

  • Melaksanakan perhitungan atau perbandingan. 
Langkah ini termasuk mengakumulasi data yang akan digunakan dalam menghitung jumlah absolut dan persentase perbedaan antara jumlah saat ini dan tahun lal, menghitung data ukuran umum serta data rasio, dan lain sebagainya. Selain itu, langkah ini juga termasuk pengumpulan data industri untuk tujuan perbandingan.
  • Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan. 
Analisis mengenai data rasio yang tepat menyediakan penilaian berkelanjutan atas solvabilitas, efisiensi dan profitabilitas relatig terhada tahun lalu dan terhadap perusahaan lain dalam industri yang sama. Secara serupa, perbandingan data entitas tahun berjalan dan tahun lalu akan membantu auditor untuk memahami dampak kejadian atau keputusan penting terhadap laporan keuangan entitas.
  • Menyelidiki perbedaan signifikan yang tidak terduga dan mengevaluasi perbedaan tersebut 
Hal ini biasanya melibatkan pertimbangan ulang metode-metode dan faktor-faktor yang digunakan dalam mengembangkan ekspektasi dan mengajukan pertanyaan kepada manajemen.
  • Menentukan dampak hasil prosedur analitik terhadap perencanaan audit. 
Perbedaan signifikan yang tidak dapat dijelaskan biasanya dianggap sebagai indikasi suatu peningkatan risiko salah saji dalam akun-akun yang terlibat dalam perhitungan perbandingan. Dalam kasus ini, auditor biasanya akan merencanakan untuk melaksanakan pengujian yang ebih mendetil terhadap akun-aku tersebut. Prosedur analitis sering menyediakan auditor petunjuk mengenai apakah suatu akun lebih mungkin dinyatakan lebih saji atau kurang saji. Dengan mengarahkan perhatian auditor terhadap bidang-bidang yang memiliki risiko lebih tinggi, prosedur analitis dapat memberikan kontribusi bagi pelaksanaan audit yang lebih efektif dan efisien.


3. Mempertimbangkan tingkat materialitas awal

  • Tingkat laporan keuangan 
  • Tingkat saldo akun 
Material awal perlu ditetapkan karena pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan diterapkan pada laporan keuangan sebagai keseluruhan.


4. Mempertimbangkan risiko bawaan

Risiko bawaan (inberent risk) suatu risiko salah saji yang melekat dalam saldo akun atau asersi tentang suatu saldo akun. Risiko pengendalian (control risk) suatu risiko tidak dapat dicegahnya salah saji material dalam suatu saldo akunatan asersi tentang suatu saldo akun oleh pengendalian intern. Risiko deteksi (detection risk) suatu risiko tidak terdeteksinya salah saji material dalam suatu saldo akun atau asersi tentang suatu saldo akun oleh prosedur audit yang dilaksanakan oleh auditor. Risiko audit suatu risiko kegagalan auditor dalam memodifikasi pendapatannya atas laporan keuangan yang secara material disajikan salah.


5. Mengembangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan

Tujuan akhir perencanaan dan pelaksanaan audit yang dilakukan auditor adalah untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang rendah, untuk mendukung pendapat apakah, dalam semua hal yang material, laporan keuangan disajikan secara wajar. Tujuan ini diwujudkan melalui pengumpulan dan evaluasi bukti tentang asersi yang terkandung dalam laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen.Karena keterkaitan antara bukti audit, materialitas, dan komponen risiko audit (risiko bawaan, risiko pengendalian, danm risiko deteksi), auditor dapat memilih strategi audit awal dalam perencanaan audit terhadap asersi individual atau golongan transaksi.



6. Memahami pengendalian intern klien
Penyajian laporan keuangan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di in donesia mewajibkan klien untuk melaksanakan peraturan-peraturan pemerintah dan perjanjian-perjanjian legal yang lain. Jika material, informasi mengenai kewajiban legal klien, harus dijelaskan dalam laporan keuangan
Sebelum memulai verifikasi dan analisis terhadap transaksi dan akun tertentu, auditor perlu memahami kewajiban-kewajiban legal dan perjanjian-perjanjian yang menyangkut klien. Informasi tersebut tercantum dalam dokumen-dokumen berikut ini:
  • Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga 
  • Perjanjian persekutuan (partnership agreement) 
  • Notulen rapat direksi dan pemegang saham 
  • Kontrak 
  • Peraturan-peraturan pemerintah yang secara langsung menyangkut perusahaan klien 
  • Arsip korespondensi 


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kamis, 14 Maret 2013


DESI NUR FAUZIAH
C1C010039

STANDAR AUDIT

Tugas kedua matakuliah Auditing 2 yaitu menulis 10 standar audit.
Kali ini saya akan membahas ke sepuluh standard tersebut.

Standar Auditing adalah sepuluh standar yang ditetapkan dan disahkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), standard tersebut terdiri dari:

  •  Standar umum
  •  Standar pekerjaan lapangan,
  • dan standar pelaporan beserta interpretasinya.
Standar auditing terdiri atas sepuluh standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Auditing (PSA).

Apa itu PSA?
PSA merupakan penjabaran lebih lanjut dari masing-masing standar yang tercantum didalam standar auditing. PSA berisi ketentuan-ketentuan dan pedoman utama yang harus diikuti oleh Akuntan Publik dalam melaksanakan penugasan audit. Kepatuhan terhadap PSA yang diterbitkan oleh IAPI ini bersifat wajib bagi seluruh anggota IAPI. Termasuk didalam PSA adalah Interpretasi Pernyataan Standar Auditng (IPSA), yang merupakan interpretasi resmi yang dikeluarkan oleh IAPI terhadap ketentuan-ketentuan yang diterbitkan oleh IAPI dalam PSA. Jadi, IPSA memberikan jawaban atas pernyataan atau keraguan dalam penafsiran ketentuan-  yang dimuat dalam PSA sehingga merupakan perlausan lebih lanjut berbagai ketentuan dalam PSA. Tafsiran resmi ini bersifat mengikat bagi seluruh anggota IAPI, sehingga pelaksanaannya bersifat wajib.

Standar Umum
ü  Latihan teknis dan Keahlian Profesi
Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor. 
Jadi, auditor harus menjalani pelatihan teknis yang cukup dalam praktik akuntansi dan prosedur audit. Seorang auditor harus mengikuti perkembangan yang terjadi dalam dunia usaha da profesinya.

ü  Sikap independen
Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor. 
Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak tergantung pada orang lain serta tidak dikendalikan oleh orang lain. Seorang auditor harus mempunyai kejujuran dalam dirinya untuk mempertimbangkan fakta. Selain itu, seorang auditor harus menghindari keadaan-keadaan  yang dapat mengakibatkan masyarakat meragukan independensinya.

ü  Kemahiran seksama
Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama. 
Penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama berarti penggunaan pertimbangan yang sehat dalam penetapan lingkup, pemilihan metode, dan dalam pemilihan dan pengujian dan prosedur untuk mengaudit.

Standar Pekerjaan Lapangan
ü  Rencana dan Supervisi
Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya. 
Dalam perencanaan audit, auditor harus memahami bisnis dan industri klien. Apabila menggunakan asisten maka harus diberi pengarahan terlebih dahulu untuk mencapai tujuan audit. 

ü  Pengendalian Internal
Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh unutk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. 
Langkah pertama yang dialkukan oleh auditor dalam memahami pengendalian intern klien yaitu dengan mempelajari unsur-unsur pengedalian intern yang berlaku, kemudian  melakukan penilaian terhadap efektivitas pengendalian intern dengan menentukan kekuatan dan kelemahan pengendalian intern tersebut.

ü  Bukti yang cukup kompeten
Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keungan yang diaudit. 
Bukti audit yang mendukung laporan keuangan terdiri dari data akuntansi dan semua informasi penguat yang tersedia. Informasi penguat meliputi segala dokumen seperti faktur, cek, surat kontrak, notulen rapat, informasi auditor yang diperoleh melalui permintaan keterangan, inspeksi dan pemeriksaan fisik. kompetensi bukti audit berhubungan dengan kualitas atau keandalan data akuntansi dan informasi penguat.

3. Standar Pelaporan
ü  Prinsip Akuntansi Yang Berlaku Umum
Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. 
Prinsip akuntansi yang berlaku umum digunakan sebagai tolak ukur untuk mengukur penyajian laporan keuangan. Auditor dituntut untuk menyatakan pendapatnya mengenai penyusunan laporan keuangan kliennya. 

ü  Ketidakkonsistensian
Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
Apabila ada ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dengan tahun sebelumnya maka auditor harus menyatakan hal tersebut dalam laporannya.

ü  Pengungkapan Informatif
Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.
Sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum penyajian laporan keuangan itu harus memuat pengungkapan informatif atas hal-hal material yaitu bentuk, susunan, isi laporan keuangan, serta catatan atas laporan keuangan.

ü  Opini keseluruhan
Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan.
Apabila tidak dapat memberikan pendapat secara keseluruhan, maka harus menyertakan alasan.

Standar-standar tersebut di atas dalam banyak hal saling berhubungan dan saling bergantung satu dengan lainnya. Keadaan yang berhubungan erat dengan penentuan dipenuhi atau tidaknya suatu standar, dapat berlaku juga untuk standar yang lain. "Materialitas" dan "risiko audit" melandasi penerapan semua standar auditing, terutama standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan.



Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

JURNAL AUDIT (ANALISIS  TERHADAP SIKLUS PENDAPATAN DAN PENGELUARAN DI PT. LEVINA)
KELOMPOK 11

Tugas pertama mata kuliah Auditing 2 yaitu mereview jurnal, tugas ini dilakukan secara berkelompok dengan anggota kelompok yaitu:

Anastasia Marinda (C1C010021)
Tival Nugroho Putri (C1C010032)
Giacinta Karlyn Nindrasmara (C1C010035)
Desi Nur Fauziah (C1C010039)
Tryssya Feby Andany (C1C010044)


Untuk melihat hasil review jurnal tersebut silahkan klik disini


Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS